Awal saya menginjakkan kaki di Temenos sekitar satu tahun yang lalu, saya mendapatkan informasi dari adik ipar. Awalnya saya sempat pesimis, apakah proses ini akan memberikan hasil atau tidak. Namun, bagi kami ini adalah sebuah ikhtiar. Keraguan saya terutama karena anak saya saat itu sudah beranjak dewasa, berusia 16 tahun. Benar saja, pada awal-awal terapi prosesnya terasa sangat berat dan perkembangan yang terlihat masih sangat datar. Namun, seiring berjalannya waktu, hasil itu mulai ada. Walaupun sedikit, bagi kami hal tersebut merupakan anugerah dari Allah.
Lanjutkan membaca — Indri
Anak saya kemudian menjadikan Temenos seperti rumah keduanya. Ia merasa aman, nyaman, dan bisa menjadi dirinya sendiri. Ia juga bisa bercerita apa saja kepada terapisnya. Alhamdulillah, sejak awal masuk ia langsung merasa cocok dengan Mr. Teddy dan Ms. Billy. Kedua terapis ini menjadi kawan baru bagi anak saya. Ada satu momen yang sangat menyentuh ketika Mr. Teddy berkata kepada anak saya, “Anggap Mister teman kamu ya, jangan anggap guru, supaya kita tambah akrab.” Saat itu saya merasa sangat terharu, dan anak saya pun sangat senang. Walaupun sekarang sudah tidak lagi didampingi oleh mereka berdua, tentu masih ada proses penyesuaian kembali.
Perubahan yang paling menonjol sekarang adalah komunikasi anak dengan orang-orang di rumah menjadi lebih luwes. Ia juga lebih banyak menyampaikan keinginannya, alhamdulillah. Sepulang dari terapi, ia sering bercerita tentang apa saja yang ia kerjakan, tingkah teman-temannya, siapa teman yang ia sukai maupun yang kurang ia sukai. Bahkan Mbak Ayu yang bekerja di Temenos pun ikut diceritakan ketika kami sedang berkumpul bersama keluarga. Hal yang paling ingin saya sampaikan kepada keluarga lain tentang Temenos adalah bahwa mereka bekerja dengan hati, konsisten, dan tidak ada yang terlewat. Foundernya juga memiliki latar belakang pendidikan yang kompeten di bidangnya, sehingga kami sebagai orang tua merasa aman.