Apa itu
Layanan Pendampingan di Sekolah adalah layanan profesional untuk membantu anak belajar, berpartisipasi, berinteraksi, dan menjalani aktivitas di sekolah secara semakin optimal dan mandiri.
School Support Professional (shadow teacher atau accompanying teacher) adalah profesional eksternal yang bekerja secara kolaboratif dengan guru dan sekolah untuk memahami kebutuhan individual anak dan menentukan bentuk dukungan yang sesuai dalam pembelajaran sehari-hari. Dukungan dapat mencakup akomodasi pembelajaran, modifikasi bila diperlukan, dukungan fungsi eksekutif (executive functioning), regulasi emosi dan perilaku, keterampilan sosial, dan kemampuan fungsional anak di sekolah.
Bentuknya selalu disesuaikan dengan kebutuhan anak serta kurikulum dan sistem pembelajaran sekolah. Pada sebagian anak, kurikulum akademik tetap sama dengan teman sebayanya dan hanya dibutuhkan akomodasi tertentu. Pada anak lain, dibutuhkan penyesuaian yang lebih individual dan dituangkan dalam Program Pembelajaran Individual (PPI).
Prinsip dukungan berdasarkan kebutuhan individual ini sejalan dengan kebijakan Akomodasi yang Layak bagi peserta didik penyandang disabilitas dalam Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023, yang mencakup dukungan melalui pendidik dan tenaga kependidikan, sarana-prasarana, dan kurikulum.
Mendukung Kemandirian, Bukan Ketergantungan
Di Temenos, School Support Professional bukan sekadar helper yang terus berada di samping anak atau mengambil alih hal-hal yang sebenarnya dapat dipelajari anak untuk dilakukan sendiri. Pendampingan diarahkan agar anak secara bertahap mampu melakukan lebih banyak hal secara mandiri, antara lain:
- memahami dan mengikuti tuntutan kegiatan sekolah;
- memulai, mengorganisasi, dan menyelesaikan tugas;
- mempertahankan perhatian dan menggunakan strategi belajar;
- meminta bantuan secara tepat;
- mengelola emosi dan perilaku;
- memecahkan masalah;
- berinteraksi dengan teman sebaya; dan
- menjalankan aktivitas fungsional di sekolah secara semakin mandiri.
Literatur tentang dukungan satu-ke-satu menunjukkan bahwa pendampingan yang terlalu melekat atau tidak direncanakan dengan baik dapat meningkatkan ketergantungan pada School Support Professional dan membatasi kemandirian siswa. Karena itu, dukungan direncanakan dengan tujuan yang jelas, ditinjau berkala, dan dikurangi bertahap seiring berkembangnya keterampilan anak (Scheef et al., 2023).
Supporting Independence, Not Dependence.
Pendekatan Kolaboratif Temenos
Kolaborasi tidak hanya berarti bekerja sama dengan sekolah dan orang tua. Di dalam tim Temenos sendiri ada proses observasi bersama, diskusi profesional, supervisi, refleksi, dan pengembangan profesional berkelanjutan.
Sesuai kebutuhan anak, satu anak dapat didampingi oleh dua profesional Temenos yang bekerja bergantian pada hari yang berbeda, dengan target, prinsip, dan strategi pendampingan yang disepakati bersama. Ini bukan sekadar pergantian jadwal. Kedua School Support Professional bekerja sebagai satu tim: berbagi observasi, mendokumentasikan respons anak, mendiskusikan strategi, dan meninjau perkembangan secara berkala.
Dengan lebih dari satu perspektif, tim dapat membahas strategi apa yang efektif, situasi apa yang menantang bagi anak, tingkat bantuan yang masih diperlukan, dukungan apa yang sudah dapat dikurangi, bagaimana anak merespons orang dan konteks yang berbeda, dan keterampilan apa yang perlu dikembangkan lebih lanjut.
Literatur menekankan pentingnya kejelasan peran, komunikasi, kolaborasi, pelatihan, dan supervisi bagi tenaga pendukung di sekolah. Ketika peran School Support Professional tidak jelas atau dukungan terlalu melekat, School Support Professional berisiko mengambil alih peran instruksional dan sosial yang seharusnya tetap terhubung dengan guru dan teman sebaya (Sharma & Salend, 2016). Model dua profesional bergantian adalah model layanan Temenos; literatur yang dikutip mendukung prinsip di baliknya.
Supervisi dan Pengembangan Profesional Berkelanjutan
School Support Professional tidak bekerja sendiri tanpa arahan. Kasus dan perkembangan anak dibahas melalui supervisi untuk meninjau hasil observasi, mengevaluasi efektivitas strategi, memastikan peran School Support Professional tetap tepat, dan merencanakan langkah berikutnya. Tim mempertimbangkan, misalnya:
- Apakah akomodasi yang diberikan efektif?
- Bagaimana agar anak melakukan bagian tertentu secara lebih mandiri?
- Apakah strategi perlu disesuaikan secara individual atau klasikal?
- Apakah kesulitan lebih berkaitan dengan kemampuan anak, tuntutan tugas, atau lingkungan belajar?
- Apakah guru dan School Support Professional menggunakan strategi yang cukup konsisten?
- Bagaimana dukungan dapat dikurangi bertahap tanpa menghilangkan kesempatan anak untuk berhasil?
Shared goals. Shared strategies. Professional supervision. Continuous learning. Regular reflection.
Dari Konsistensi ke Generalisasi
Salah satu tujuan penting pendampingan adalah membantu anak menggunakan keterampilan yang dipelajarinya bersama orang, aktivitas, dan situasi yang berbeda. Dalam ilmu belajar, ini disebut generalisasi.
Anak mungkin mampu melakukan suatu keterampilan bersama satu orang tertentu, tetapi belum tentu bersama guru lain, di kelas lain, atau dalam situasi lain. Karena itu generalisasi perlu direncanakan, bukan diasumsikan akan terjadi sendiri (Stokes & Baer, 1977).
Dalam model Temenos, konsistensi bukan berarti anak harus selalu bersama orang yang sama. Yang dijaga konsisten adalah target, ekspektasi, struktur, prinsip dukungan, dan cara tim merespons kebutuhan anak.
Dari "Saya bisa karena orang tertentu membantu saya" menuju "Saya punya strategi yang dapat saya gunakan dalam berbagai situasi."
Bekerja Bersama Kelas, Bukan Terpisah Darinya
School Support Professional Temenos tidak bekerja sebagai sistem yang terpisah dari guru dan kelas. Bersama guru, School Support Professional memahami kebutuhan anak sekaligus faktor lingkungan yang dapat disesuaikan agar anak belajar dan berpartisipasi lebih baik. Penyesuaian dapat mencakup:
- pengaturan tempat duduk dan lingkungan belajar;
- cara pemberian instruksi;
- penggunaan dukungan visual;
- pembagian tugas menjadi langkah yang lebih terstruktur;
- strategi transisi antaraktivitas;
- pengelolaan kelas;
- strategi regulasi emosi dan perilaku;
- dukungan fungsi eksekutif;
- kesempatan berinteraksi dengan teman sebaya; dan
- akomodasi atau modifikasi akademik bila diperlukan.
Pendekatan ini membantu tim bertanya bukan hanya "Apa yang harus anak lakukan secara berbeda?", tetapi juga "Apa yang dapat disesuaikan dari lingkungan agar anak punya kesempatan lebih baik untuk berhasil?" (Sharma & Salend, 2016).
Kolaborasi dengan Sekolah dan Orang Tua
Perkembangan anak tidak terjadi hanya di satu tempat. Karena itu, layanan ini melibatkan komunikasi dan kolaborasi dengan guru, sekolah, orang tua, dan profesional lain yang terlibat, sesuai kebutuhan. Pertemuan kolaboratif dapat membahas perkembangan anak, target pembelajaran, akomodasi atau modifikasi, strategi regulasi, perkembangan kemandirian, strategi yang digunakan di sekolah, dan langkah berikutnya.
Bila anak memiliki PPI, tim Temenos dapat menjadi salah satu pihak profesional yang memberikan hasil observasi dan berdiskusi bersama orang tua dan sekolah, agar dukungan di sekolah, di rumah, dan dalam intervensi individual memiliki arah yang saling terhubung.
Terintegrasi dengan Educational Therapy
Di Temenos, Pendampingan di Sekolah diberikan secara terintegrasi dengan Educational Therapy. Keduanya memiliki fungsi berbeda tetapi saling melengkapi.
Sekolah adalah lingkungan alami yang kompleks. Dalam satu waktu, anak dituntut mendengarkan instruksi, mempertahankan perhatian, mengingat informasi, mengorganisasi tugas, memulai dan menyelesaikan pekerjaan, mengatur emosi, beradaptasi, berinteraksi, dan memenuhi tuntutan akademik.
Bagaimana anak berfungsi di lingkungan belajar yang nyata?
Pendampingan di sekolah memungkinkan tim mengamati bagaimana kemampuan anak benar-benar digunakan dalam konteks nyata. Educational Therapy kemudian memberikan setting individual untuk menargetkan keterampilan yang relevan, misalnya fungsi eksekutif, perhatian dan regulasi diri, bahasa dan pemahaman, memori kerja, strategi belajar, pemecahan masalah, keterampilan akademik, dan kemandirian.
Kesulitan yang terlihat di sekolah menjadi informasi bagi target individual dalam Educational Therapy. Sebaliknya, strategi yang dikembangkan dalam Educational Therapy diterapkan kembali di sekolah dengan dukungan School Support Professional. Perkembangannya ditinjau melalui observasi, dokumentasi, diskusi tim, dan supervisi.
Tujuan Kami
Tujuan Temenos bukan mempertahankan pendampingan selama mungkin, melainkan membantu anak membangun kapasitasnya sendiri, sehingga secara bertahap ia mampu menggunakan strategi, mengambil bagian dalam belajar, dan menghadapi tuntutan sekolah dengan semakin mandiri.
Bagaimana dukungan hari ini dapat membantu anak membutuhkan lebih sedikit dukungan besok?
Pendampingan dilakukan dengan prinsip: menghindari ketergantungan pada dukungan satu-ke-satu dan merencanakan pengurangan dukungan secara bertahap; menjaga kejelasan peran guru dan School Support Professional; membangun kolaborasi dalam tim pendidikan; menyediakan supervisi, pelatihan, dan coaching; merencanakan generalisasi lintas orang dan situasi; menggunakan intervensi yang terarah sesuai kebutuhan dan konteks; dan menyediakan akomodasi yang layak.
Referensi
- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2023). Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 48 Tahun 2023 tentang Akomodasi yang Layak untuk Peserta Didik Penyandang Disabilitas pada Satuan Pendidikan Anak Usia Dini Formal, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah, dan Pendidikan Tinggi. Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2023 Nomor 612. https://peraturan.bpk.go.id/Details/285711/permendikbudriset-no-48-tahun-2023
- Scheef, A. R., Hollingshead, A., Malone, K., Sherman, W. M., Seamans, A., Sabala, T., & Carson, J. (2023). Increasing the independence of students with disabilities in the classroom through indirect paraprofessional support. TEACHING Exceptional Children, 56(2), 82–88. https://doi.org/10.1177/00400599221143457
- Sharma, U., & Salend, S. J. (2016). Teaching assistants in inclusive classrooms: A systematic analysis of the international research. Australian Journal of Teacher Education, 41(8), 118–134. https://doi.org/10.14221/ajte.2016v41n8.7
- Stokes, T. F., & Baer, D. M. (1977). An implicit technology of generalization. Journal of Applied Behavior Analysis, 10(2), 349–367. https://doi.org/10.1901/jaba.1977.10-349
